Cari Blog Ini

Rabu, 22 November 2017

3 Nilai Ajaran Islam Untuk Pendidikan Karakter Anak Usia Dini

 

Rasulullah bersabda:
“Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang dapat mengarahkan anaknya, apakah ia menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi ” (H.R, Bukhari).

Hadis tersebut mengisyaratkan bahwa faktor pendidikan orang tua memegang peranan yang sangat menentukan dalam menanamkan kesadaran beragama pada anak. Keluarga merupakan salah satu faktor penentu utama dalam perkembangan kepribadian anak.

Oleh karena itu, sejak awal anak perlu diberikan penanaman nila-nilai ajaran islam. Adapun nilai-nilai Islam yang menjadi pilar utama terdiri dari 3 tiang pokok yaitu, aqidah, syari’ah, dan akhlak.

1. Penanaman Aqidah / Keyakinan
Mengajarkan aqidah pada anak berarti mengajarkan keyakinan terhadap Allah dan islam. Aqidah adalah dasar utama dalam kehidupan seseorang karena inti dari aqidah adalah iman. Seseorang dikatakan muslim jika dirinya telah beriman. Oleh karena itu, keenam rukun iman yaitu, percaya kepada Allah, Malaikat-malikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, Hari Kiamat, serta qadha dan qadhar sudah seharusnya ditanamkan pada anak semenjak usia dini, karena kepercayaan itu tidak akan tumbuh dan berkembang pada diri anak kecuali dengan pembinaan dan latihan secara rutinitas.

2. Penanaman Syari’ah / Ibadah
Anak di usia emas perlu diberikan pendidikan mengenai ibadahnya. Ibadah yang dimaksud dapat berbentuk pengenalan dan latihan melakukan rukun Islam yang lima, terdiri dari pengucapan dua kalimat syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Begitu pula ibadah umum, dalam bentuk pengenalan dan pembiasaan mengucapkan kalimat tayyibah, perbuatan-perbuatan yang baik, seperti berbakti kepada orang tua, menyayangi teman, menolong tetangga, berinfaq, membantu fakir miskin, dan masih banyak lagi. Dengan adanya pengenalan, pembiasaan dan latihan sejak dini, maka kelak sewaktu anak menjadi remaja dan dewasa terbiasa melakukan ibadah dan ia merasakan bahwa ibadah itu adalah salah satu kebutuhan yang wajib dilaksanakan.

3. Pembinaan Akhlak
Untuk menumbuhkan generasi penerus yang berakhlakul karimah, maka perlu diberikan dan ditanamkan kepada anak semenjak usia dini tata cara berakhlak, baik kepada Allah, terhadap diri sendiri dan lingkungan keluarga serta alam sekitar. Dengan dibiasakan lewat latihan dan contoh dari orang tua, anak akan meniru kebiasaan baik tersebut dan akan melekat pada dirinya hingga akan membentuk kepribadiannya.

 

Strategi Pelaksanaan Pendidikan Karakter Di Sekolah


Strategi pelaksanaan pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah dapat dilakukan melalui empat cara, yaitu:
(1) Pembelajaran (teaching)
(2) Keteladanan (modeling)
(3) Penguatan (reinforcing)
(4) Pembiasaan (habituating)
Efektivitas pendidikan karakter sangat ditentukan oleh adanya pembelajaran (teaching), keteladanan (modeling), penguatan (reinforcing), dan pembiasaan (habituating) yang dilakukan secara serentak dan berkelanjutan. Pendekatan yang strategis terhadap pelaksanaan ini melibakan tiga komponen yang saling terkait satu sama lain, yaitu sekolah (kampus), keluarga, dan masyarakat. Ketika komponen sekolah (kampus) sepenuhnya akan menerapkan dan melaksanakan nilai-nilai (karakter) tertentu (prioritas), maka setiap nilai yang akan ditanamkan atau dipraktikkan tersebut harus senantiasa disampaikan oleh para guru melalui pembelajaran langsung (sebagai mata pelajaran) atau mengintegraskannya ke dalam setiap mata pelajaran. Baca jugaMenanamkan Pendidikan Karakter dengan Strategi Pembelajaran Afektif

Nilai-nilai prioritas tersebut selanjutnya harus juga dimodelkan (diteladankan) secara teratur dan berkesinambungan oleh semua warga sekolah (kampus), sejak dari petugas parkir, petugas kebersihan, petugas keamanan, karyawan administrasi, guru, dan pimpinan sekolah. Selanjutnya, nilai-nilai itu harus diperkuat oleh penataan lingkungan dan kegiataan-kegiatan di lingkungan sekolah (kampus). Penataan lingkungan di sini antara lain dengan menempatkan banner (spanduk-spanduk) yang mengarah dan memberikan dukungan bagi terbentuknya suasana kehidupan sekolah (kampus) yang berkarakter terpuji. Baca jugaMembangun Budaya Sekolah yang Berkarakter
Penguatan dapat pula dilakukan dengan melibatkan komponen keluarga dan masyarakat. Komponen keluarga meliputi pengembangan dan pembentukan karakter di rumah. Pihak sekolah (kampus) dapat melibatkan para orang tua untuk lebih peduli terhadap perilaku para anak-anak mereka. Sedangkan komponen masyarakat atau komunitas secara umum adalah sebagai wahana praktik atau sebagai alat kontrol bagi perilaku siswa dalam mengembangkan dan membentuk karakter mereka. Pihak sekolah (kampus) dapat melakukan komunikasi dan interaksi dengan keluarga dan masyarakat ini dari waktu ke waktu secara periodik.
Pembiasaan (habituation) dapat dilakukan di sekolah dengan berbagai cara dan menyangkut banyak hal seperti disiplin waktu, etika berpakaian, etika pergaulan, perlakuan siswa terhadap karyawan, guru, dan pimpinan, dan sebaliknya. Pembiasaan yang dilakukan oleh pimpinan, guru, siswa, dan karyawan, dalam disiplin suatu lembaga pendidikan merupakan langkah yang sangat strategis dalam mebentuk karakter secara bersama.

Demikianlah uraian mengenai Strategi Pelaksanaan Pendidikan Karakter di Sekolah, semoga dapat bermanfaat dan menginspirasi serta bisa diimplementasikan dalam menciptakan iklim sekolah yang sehat dan berkarakter. Yang pada akhirnya melahirkan generasi-generasi bangsa yang berkarakter pula.

3 Kebutuhan Dasar Yang Harus DiPenuhi Pada Anak 

 


Kunci dalam pendidikan karakter agar karakter anak bisa tumbuh dan berkembang maksimal, ada 3 kebutuhan yang harus dipenuhi pada anak usia 0 – 7 tahun bahkan lebih. Yaitu:
1. Kebutuhan akan rasa aman
2. Kebutuhan untuk mengontrol
3. Kebutuhan untuk diterima.
3 kebutuhan dasar emosi tersebut harus terpenuhi agar anak kita menjadi pribadi yang handal dan memiliki karakter yang kuat menghadapi hidup. Sebenarnya ada 6 ciri karakter anak yang bermasalah, cukup kita melihat dari perilakunya yang nampak maka, kita sudah dapat melakukan deteksi dini terhadap “musibah besar” dikehidupan yang akan datang atau dewasa. Inilah ciri-ciri karakter tersebut :
1. Susah diatur dan diajak kerja sama.
Hal yang paling nampak adalah anak akan membangkang, akan semaunya sendiri, mulai mengatur tidak mau ini dan itu. pada fase ini anak sangat ingin memegang kontrol. Mulai ada “pemberontakan” dari dalam dirinya. Hal yang dapat kita lakukan adalah memahaminya dan kita sebaiknya menanggapinya dengan kondisi emosi yang tenang.
2. Kurang terbuka pada pada orang tua.
Saat orang tua bertanya “Gimana sekolahnya?” anak menjawab “biasa saja”, menjawab dengan malas, namun anehnya pada temannya dia begitu terbuka. Aneh bukan? Ini adalah ciri ke 2, nah pada saat ini dapat dikatakan figure orangtua tergantikan dengan pihak lain (teman ataupun ketua gang, pacar, dll). Saat ini terjadi kita sebagai orangtua hendaknya mawas diri dan mulai menganti pendekatan kita.
3. Menanggapi negatif.
Saat anak mulai sering berkomentar “Biarin aja dia memang jelek kok”, tanda harga diri anak yang terluka. Harga diri yang rendah, salah satu cara untuk naik ke tempat yang lebih tinggi adalah mencari pijakan, sama saat harga diri kita rendah maka cara paling mudah untuk menaikkan harga diri kita adalah dengan mencela orang lain. Dan anak pun sudah terlatih melakukan itu, berhati-hatilah terhadap hal ini. Harga diri adalah kunci sukses di masa depan anak.
4. Menarik diri.
Saat anak terbiasa dan sering menyendiri, asyik dengan duniannya sendiri, dia tidak ingin orang lain tahu tentang dirinya (menarik diri). Pada kondisi ini kita sebagai orangtua sebaiknya segera melakukan upaya pendekatan yang berbeda. Setiap manusia ingin dimengerti, bagaimana cara mengerti kondisi seorang anak? Kembali ke 3 hal yang telah saya jelaskan. Pada kondisi ini biasanya anak merasa ingin diterima apa adanya, dimengerti – semengertinya dan sedalam-dalamnya.
5. Menolak kenyataan.
Pernah mendengar quote seperti “Aku ini bukan orang pintar, aku ini bodoh”, “Aku ngga bisa, aku ini tolol”. Ini hampir sama dengan nomor 4, yaitu kasus harga diri. Dan biasanya kasus ini (menolak kenyataan) berasal dari proses disiplin yang salah. Contoh: “masak gitu aja nga bisa sih, kan mama dah kasih contoh berulang-ulang”.
6. Menjadi pelawak.
Suatu kejadian disekolah ketika teman-temannya tertawa karena ulahnya dan anak tersebut merasa senang. Jika ini sesekali mungkin tidak masalah, tetapi jika berulang-ulang dia tidak mau kembali ke tempat duduk dan mencari-cari kesempatan untuk mencari pengakuan dan penerimaan dari teman-temannya maka kita sebagai orang tua harap waspada. Karena anak tersebut tidak mendapatkan rasa diterima dirumah.

Tips Memahami Karakter Anak 

 

 


Memahami karakter anak memang terkadang begitu sulit bahkan kita seringkali tidak mampu melakukannya. Kebanyakan kita bahkan dibuat bingung oleh anak sehingga mereka enggan membagi banyak hal misalnya cerita di sekolah, masalah mereka, hingga cerita-cerita yang biasa kepada kita sebagai orang tua. Ketika anak mulai tidak nyaman berbicara dengan kita, mungkin itu berarti kita belum mampu mendapatkan kepercayaan dan memahami karakter anak itu sendiri. Untungnya, kami memberikan beberapa tips memahami karakter anak yang bisa anda coba di rumah.
1. Mendengarkan anak anda dengan baik
Jangan mendengarkan anak sebagai syarat saja, namun dengarkan dengan baik, berikan respon, dan pikirkan penyelesaiannya jika anak mempunyai masalah. Banyak orang tua yang menganggap cerita anak mereka tidak penting dan hanya mendengarkan sebagai symbol atau syarat saja. Sementara itu, anak mengetahui bahwa mereka tidak didengarkan dan mulai menjauh dari orang tua. Ketika hal ini terjadi, maka orang tua sudah mengambil langkah salah untuk memahami seorang anak.
2. Berusaha memahami tipe emosional anak
Misalkan, anak anda merupakan anak yang tidak sabaran, namun sebenarnya ia bisa lebih sabar apabila diberi pengertian dengan baik. Oleh karena itu, pahami tipe emosional anak dan jangan berikan amarah atau tindak kekerasan ketika anak telah menyentuh sisi negatif dari emosinya. Berikan ia pengertian atau cari cara lain agar emosi anak tidak bertambah buruk dari waktu ke waktu.
3. Interogasi anak dengan baik
Beberapa orang tua cenderung buru-buru dan tidak sabaran ketika mereka menemukan suatu kejanggalan dan ingin mendapatkan fakta mengenai hal tersebut dari anak. jika anda melakukan interogasi dengan konsep berkata keras, memaksa, dan bahkan memukul. Maka anak akan berbohong kepada anda, serta konsep memahami karakter anak bisa pupus. Interogasi anak dengan lembut, buat ia mengatakan hal yang sebenarnya, dan ketahui bagaimana anak tersebut mampu menceritakan hal-hal yang sangat rahasia kepada anda. jika hal itu terjadi, maka anda telah memahami karakter anak dan siap untuk mendidiknya menjadi lebih baik.
Pendidikan yang perlu di tanamkan kepada anak sejak awal

1. Pendidikan keagamaan
Ini adalah hal yang utama perlu ditekankan pada seorang anak ; seorang anak perlu tahu siapa Tuhannya, cara beribadah, dan bagaimana memohon berkat dan mengucap syukur. Tunjukkan buku, gambar, dan cerita-cerita yang bisa menginspirasi si anak yang berhubungan dengan keagamaan tersebut. Jika memungkinkan, ajak anak anda untuk ikut ke tempat ibadah bersama. Semakin dini kita menanamkan hal ini pada seorang anak, akan semakin kuat ahlak dan keyakinan akan Tuhan di dalam diri anak kita.
2. Kualitas input yang diterima
Seorang anak pada usia dibawah 10 tahun belum mempunyai fondasi yang kuat dalam prinsip hidup, cara berpikir, dan tingkah laku. Artinya, semua hal yang dilihat, didengar, dan dirasakan olehnya selama masa pertumbuhan tersebut akan diserap semuanya oleh pikiran dan dijadikan sebagai dasar atau prinsip dalam hidupnya. Adalah tugas orang tua untuk memilah dan menentukan, input-input mana saja yang perlu dimasukkan,dan mana yang perlu dihindarkan. Menonton televisi misalnya, tidak semua acara itu bagus. Demikian juga dengan membaca majalah, menonton film, mendengarkan radio, dan sebagainya.
3. Anak adalah peniru yang baik
Ada istilah Monkey see, Monkey Do ; artinya seekor monyet biasanya akan bertindak berdasarkan apa yang telah dilihatnya. Demikian pula seorang anak. Anak perlu figur seorang tokoh yang dikagumi, yang akan ditiru di dalam tindakan sehari-harinya. Pilihan utamanya biasanya akan jatuh pada orang tua. Dan seorang anak akan lebih percaya pada apa yang dilihat daripada apa yang dikatakan orang tua. Jadi saat orang tua mengatakan satu nasehat, misalnya jangan tidur malam-malam,tapi orang tuanya sendiri selalu bekerja sampai larut malam, jelas ini bukan cara mendidik yang baik. Ajarkan sesuatu melalui contoh, dengan tindakan kita sendiri, akan membuat anak meniru dan mengembangkannya menjadi suatu kebiasaan dan karakter di dalam pertumbuhannya.
4. No Pain No Gain
Apa yang akan anda lakukan sebagai orang tua apabila anak anda merengek-rengek, bahkan menangis minta dibelikan sebuah mainan ? Ada dua jenis jawaban yang biasanya saya lihat. Jenis orang tua yang pertama biasanya akan langsung membelikan mainan tersebut agar si anak bisa langsung diam dari tangisannya, dan tidak merepotkan orang tuanya. Dalam jangka panjang, sikap seperti ini akan membuat anak mempunyai karakter yang lemah, kurang tangguh, karena sudah dibiasakan diberiapa yang diinginkannya. Jenis orang tua yang kedua, biasanya akan menolak permintaan si anak dengan tegas, mungkin sambil memarahi atau mencuekkan begitu saja. Dalam jangka panjang, si anak akan mempunyai sifat yang acuh, kurang peduli dengan dirinya sendiri, kalau ditanya apa cita-cita atau keinginannya biasanya akan dijawab tidak tahu. Nah, anda sebagai orang tua bisa mencoba menambahkan alternatif pilihan ketiga, yaitu gabungan dari keduanya. Saya mengistilahkan gabungan ini dengan No Pain No Gain. Jadi saat seorang anak meminta sesuatu misalnya, kita bisa memberikannya dengan syarat tertentu. Contoh,seorang anak minta mainan pada kita sebagai orang tuanya, maka kita bisa mensyaratkan ha-hal tertentu sebagai `kerja keras’ yang harus dilakukan. Misalnya, si anak harus membantu si ayah mencuci mobil selama sebulan, atau membantu ibu membuang sampah setiap hari, baru kemudian si anak mendapatkan mainan tersebut. System No Pain No Gain ini dalam jangka panjang akan membentuk karakter yang kuat dan tangguh dari si anak, karena mereka sejak kecil sudah dibiasakan harus bekerja dulu baru mendapatkan hasil.
5. Tiga perilaku dasar dalam berkomunikasi
Sejak kecil, seorang anak perlu dididik tiga perilaku dasar dalam komunikasi dan berhubungan dengan orang lain. Pertama adalah harus belajar mengucapkan “terima kasih” kepada siapa saja yang sudah memberikan sesuatu kepadanya, kedua adalah harus belajar mengucapkan kata “tolong” apabila ingin meminta bantuan kepada orang di sekitarnya, dan ketiga adalah belajar mengucapkan kata “maaf” apabila memang bersalah. Kelihatannya memang sederhana, tapi coba lihat, berapa banyak orang yang merasa dirinya sudah dewasa yang terbiasa mengucapkan kata-kata tersebut ? Kalau anak kita sudah terbiasa mengucapkannya sejak kecil, perilakunya akan lebih menghargai orang lain. Karakter, kepribadian, dan kualitas seorang anak sangat ditentukan oleh pendidikan dan input yang diterimanya dari orang tua. Bila orang tua kurang memberikan bimbingan ini secara maksimal, maka peran ini akan diambil alih oleh lingkungan, yang mana bisa memberikan berbagai macam input yang lebih banyak negatifnya daripada positifnya.
Peran keluarga dalam Pembentukan karakter Anak


Keluarga adalah faktor penting dalam pendidikan seorang anak. Karakter seorang anak berasal dari keluarga. Dimana sebagian sampai usia 18 tahun anak-anak di Indonesia menghabiskan waktunya 60-80 % bersama keluarga. Sampai usia 18 tahun, mereka masih membutuhkan orangtua dan kehangatan dalam keluarga. Sukses seorang anak tidak lepas dari “kehangatan dalam keluarga”..
Perkembangan otak di masa anak-anak berjalan sangat efektif. Pada masa ini bakat serta potensi akademis dan nonakademis anak bermunculan dan sangat potensial. Usia anak dari umur satu sampai tiga tahun adalah masa paling penting bagi tumbuh kembang mereka. Indikator tumbuh kembang anak tidak hanya diukur dari pertumbuhan fisik, namun juga perkembangan otak yang dapat dilihat dari responnya terhadap lingkungan.
Untuk melihat kecerdasan otak seorang anak, orang tua perlu memahami perubahan apa saja yang penting bagi anak. Jika orang tua tidak tanggap dengan perkembangan anak, masalah akan datang saat anak sudah dewasa nanti.
Pada otak anak usia 3 tahun, terbentuk milyaran sel disebut neuron, yang mengirim dan menerima informasi. Lima tahun ke depan adalah mengelola neuron ini jadi jaringan sambungan berkecepatan tinggi yang mengontrol emosi, pikiran, dan gerakan. Pengelolaan seperti ini butuh banyak upaya: Dari usia tiga sampai sembilan tahun, otak menggunakan lebih banyak energi dibanding kurun waktu lain dalam hidup.Pendeskripsian otak anak seperti ‘plastik’. Artinya, otak  sangat elastis alias luwes dalam perubahan, dan pengalaman secara fisik mengubah, atau mengarahkan, perkembangan sambungan antara bagian otak yang berbeda. Sambungan yang paling sering digunakan, seperti yang membuat anak berjalan dan berbicara, meluas dan menguat. Sementara itu, perubahan fisik lain terjadi sehingga pesan-pesan dalam otak yang dikirimkan makin cepat sampai dan lebih efisien. Untuk mengetahui sambungan otak sudah mulai terbentuk adalah anak-anak mulai bertanya hal-hal baru dan menggunakan kata-kata baru.
Pada usia dua sampai tiga tahun, ada peningkatan aktivitas pada dua area utama otak, yaitu memroses bahasa, hal ini terbukti dari meningkatnya secara drastis kosa kata anak prasekolah, mulai dari sekitar 900 kata sampai 2.500-3.000 kata sebelum mencapai umur lima tahun.Tiap anak akan mengembangkan keunikan otak masing-masing. Semua jenis keterampilan (bermain musik atau olahraga), dan juga setiap pikiran, perasaan, dan pengalaman akan berinteraksi dengan bekal genetis yang dimiliki dan menciptakan jaringan otak tersendiri.
Karakter seorang anak terbentuk terutama pada saat anak berusia 3 hingga 10 tahun. Adalah tugas kita sebagai orang tua untuk menentukan input seperti apa yang masuk ke dalam pikirannya, sehingga bisa membentuk karakter anak yang berkualitas. Karakter adalah sesuatu yang dibentuk, dikonstruksi, seiring dengan berjalannya waktu dan semakin berkembangnya seorang anak.
Anak itu ibarat kanvas putih bersih. Diberi goresan hitam, ia akan menjadi hitam. Diberi goresan kuning, ia akan  menjadi kuning. Atau yang lebih tepat, anak itu ibarat lempung. Dan kita, orang-orang dewasa di sekitarnya, adalah yang membentuk lempung itu. Akan berbentuk apa lempung itu, hal itu tergantung pada orangtua yang membentuknya. Ini berkaitan dengan bagaimana dan cara yang harus dilakukan agar anak didik dari tingkat dasar hingga tingkat tinggi dapat menginternalisasi, menjalankan, dan terus menjadikan pegangan dalam kehidupan. Ada 18 karakter yang dapat ditanamkan dalam kehidupan anak-anak. Diantaranya; religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta Tanah Air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.
Pendidikan agama juga sangat penting dalam lingkungan pendidikan seorang anak. Pendidikan agama dapat berfungsi sebagai  kontrol internal pada diri sang anak. Lingkungan keluarga harus bisa memberikan contoh perilaku yang baik kepada sang anak. Ubah lingkungan di mana sang anak itu tumbuh jadi lingkungan yang memberi teladan baik. Tempatkan ia dalam lingkungan yang memunculkan sifat-sifat baik dalam dirinya. Lingkungan inilah yang terutama membentuk lempung (anak) itu. Membangun karakter diperlukan juga semacam reward and punishment untuk sang anak, terutama di sekolah. Jika ia berlaku baik, beri semacam “hadiah” apa pun bentuknya, entah itu pujian atau apa pun. Jika ia berlaku buruk, beri juga ia hukuman. Lingkungan dan reward and punishment ini  nantinya akan menjadi semacam kontrol eksternal (sosial) pada diri sang anak, yang lazimnya jauh lebih efektif ketimbang sekadar kontrol internal dalam membentuk karakter baik anak.

Pendidikan Karakter dalam Shalat

Shalat dan Pembentukan Karakter

“Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat!” (Al Hadits)
Bila merujuk kepada Al –Qur’an, ” sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar”. (QS. Al Ankabut:...).
Ini mengisaratkan bahwa shalat bisa merubah perilaku tidak baik menjadi baik. Shalat itu bisa mendidik diri menjadi manusia berkarakter baik. Shalat itu bisa memperbaiki akhlak (budi pekerti). Sebagaimana fungsi risalah nabi saw,”Sesungguhnya aku diutus ke dunia ini untuk memperbaiki/menyempurnakan akhlak manusia”.
Pantas jika disebutkan bahwa amal yang pertama dijadikan standar perhitungan baik buruk manusia di hadapan Allah kelak adalah Shalat. Siapa yang shalatnya baik (sempurna) maka pasti baik pula amal perbuatan (perilaku) lainnya, jika rusak shalatnya maka rusak pula amal perbuatan lainnya.
Lalu shalat yang seperti apa yang berkualitas sehingga memunculkan karakter baik tersebut di atas. Tak lain adalah shalat yang didasari kesadaran pada makna dan fungsi shalat itu sendiri. Shalat yang disadari sebagai wasilah, hubungan komunikasi seorang hamba/manusia dengan sang penciptanya (Allah). Shalat yang Menunjukan adanya rasa tanggungjawab dan syukur terhadap yang menciptakan. Hakikatnya shalat itu bukan untuk sang pencipta, karena Tuhan Maha memiliki segalanya, maha Kaya. Dia tidak butuh dengan shalat kita, tetapi sesungguhnya yang butuh adalah diri kita sendiri. Manusia lah yang butuh shalat. Karena itu shalat dalam sehari semalam minimal dilakukan 5 kali. Ini melatih kebiasaan. Mengatur waktu, disiplin. Dan juga mengatur tempo irama aktivitas kehidupan. Sehingga terjadi keseimbangan antara daya pikir, zikir, dan pola hidup bersosial.
Shalat yang didasari kesadaran demikian akan memunculkan karakter antara lain: (1) tawadhu (rendah hati), karena menyadari bahwa dirinya yang lemah serba butuh kepada sang pencipta. Bukan sekedar kewajiban tapi sudah jadi kebutuhan.
(2) menghapus sikap sombong. Dengan lantunan Allahu Akbar (takbir) itu melatih jiwa supaya mengakui bahwa tak ada kesombongan diantara sesama manusia (makhluk), karena yang patut sombong hanya pencipta yang maha agung.
(3) disiplin, dalam manajemen waktu.
(4)  sehat lahir (bersih) dan batin, menghapus niat jahat/hasud pada sesama.
(5) sikap hidup hati-hati terhadap orang lain, merasa diri ditatap terus oleh Allah
(6) ucapan pun terjaga sehingga tak menyakiti hati orang, karena yakin bisikan hati pun didengar Allah.
(7) introspeksi, mengakui kelemahan diri dihadapan Allah. Sehingga mengagungkan-Nya tanpa merasa diri angkuh.
(8) ada sugesti dan affirmasi. Melatih diri kuat dalam pikiran dan jiwa.

 

5 Kiat Menanamkan Pendidikan Karakter dalam Keluarga

Kurikulum yang diterapkan oleh sistem pendidikan di Indonesia saat ini menekankan pada pembentukan karakter. Pendidikan karakter tersebut diterapkan di seluruh tingkat pendidikan, dari mulai pendidikan dasar, menengah, hingga ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Karakter yang harus dimiliki meliputi perilaku jujur, disiplin, bertanggung jawab, peduli, toleran, serta santun dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial.
Sebelum anak mulai memasuki lembaga pendidikan resmi seperti sekolah, keluarga sebagai sistem sosial pertama yang ditemui oleh anak sebenarnya bisa menjadi saranautama dalam menerapkan karakter-karakter tersebut. Orang tua bisa berperan penuh dalam menanamkan pendidikan karakter pada anak, sementara anggota keluarga yang lain bisa ikut mendukung.
Lalu, bagaimana cara menerapkan pendidikan karakter pada anak-anak di rumah? Berikut adalah lima kiat yang bisa diterapkan orang tua untuk menanamkannya di lingkungan keluarga.

 

Selalu berikan contoh yang baik pada anak


Anak adalah peniru ulung. Di masa-masa awal kehidupannya, anak cenderung menirukan apa saja yang dilakukan oleh lingkungan terdekatnya. Karena alasan itulah, orang tua harus selalu memberikan contoh yang baik. Dibandingkan menyuruh atau mendikte anak agar melakukan sesuatu, pemberian contoh langsung yang dilakukan orang tua akan lebih efektif dalam menanamkan pendidikan karakter.
Dalam menerapkan sikap santun, misalnya, orang tua bisa mencontohkannya saat berinteraksi dengan sesama anggota keluarga atau dengan lingkungan masyarakat terdekat seperti tetangga. Jika anak memperhatikan perilaku santun orang tuanya, mereka pun akan melakukan hal yang sama saat berinteraksi dengan orang lain atau temannya.




Libatkan anak dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah

 

Kenalkan perilaku bertanggung jawab dengan cara melibatkan anak dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah. Contoh sederhana bisa diterapkan ketika anak bertengkar dengan saudaranya karena ingin memainkan mainan yang sama.
Saat situasi ini terjadi, orang tua bisa memberikan kemungkinan yang harus dipilih anak agar masalahnya bisa diatasi. Anak bisa diberikan pilihan antara memberikan mainan lain untuk dipinjamkan, memintanya untuk memainkan mainan secara bergiliran, atau mengalah dan meminjamkan mainan tersebut pada saudaranya. Biarkan anak memilih solusi terbaik menurut dirinya sehingga dia bisa bertanggung jawab terhadap pilihannya sendiri.

 


  • Tanamkan kepercayaan pada anak


Kepercayaan diri perlu dimiliki seorang anak untuk bisa melakukan tugas-tugasnya dengan baik. Orang tua berperan penting dalam menanamkan kepercayaan tersebut. Berikan tugas-tugas yang sesuai dengan tingkatan usia anak dan selalu yakinkan anak jika mereka bisa melakukan tugas yang diberikan tersebut.



Terapkan sistem ‘reward and punishment’

Tanamkan kedisiplinan dengan menerapkan sistem reward and punishment (imbalan dan hukuman). Beri anak imbalan ketika dia berhasil melakukan sesuatu atau mampu melakukan tugasnya dengan baik.
Perlu diperhatikan jika imbalan yang diberikan tidak perlu berlebihan agar anak tidak melakukan tugasnya hanya untuk mendapatkan hal tersebut. Hadiah-hadiah kecil seperti pujian atau memberikan makanan kesukaannya adalah beberapa contoh imbalan yang bisa memotivasi anak mempertahankan perilaku baiknya.
Sebaliknya, jika anak berperilaku kurang baik, jangan segan memberikan hukuman. Dalam hal ini, orang tua perlu mempertimbangkan hukuman yang tepat. Tidak terlalu keras, tetapi juga bisa membuat anak jera untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.

Ajak anggota keluarga lain untuk ikut bekerja sama

 

Pendidikan karakter dalam keluarga tidak semata-mata bersifat dua arah antara orang tua dan anak, tetapi meluas pada anggota keluarga yang lain. Ajak mereka bekerja sama dalam memberikan contoh yang baik, mendorong kepercayaan diri anak, juga memberikan penerangan terhadap sistem imbalan dan hukuman yang diterapkan.
Menanamkan pendidikan karakter dalam keluarga memang gampang-gampang- susah. Oleh karena itu, kiat-kiat di atas diharapkan dapat menjadi acuan Anda dalam menerapkannya di lingkungan yang paling dekat dengan anak untuk mendukung kehidupan sosial mereka di masa depan.

 

 


 

Pendidikan Karakter di Keluarga
 
            Keluarga adalah lembaga sosial yang pertama dalam masyarakat (WA. Gerungan). KH Abdullah Gimnastiyar atau Aa’ Gym menggeneralisasikan keluarga sebagai sebuah organisasi kecil yang terdiri atas pemimpin (ayah sebagai kepala rumah tangga) dan terpimpin (ibu dan anak). Keluarga terbentuk karena dua hal, yaitu hubungan pernikahan dan hubungan darah. Hubungan pernikahan terbentuk dalam hubungan suami dan istri. Sedangkan hubungan darah terjadi antara ayah, ibu, dan anak-anak. Hubungan ini akan terjadi dalam jangka waktu lama. Setiap keluarga kemudian bersatu membentuk sebuah masyarakat.
            Keluarga mempunyai peran vital dalam pembangunan sebuah bangsa. Anak yang berasal dari keluarga yang baik akan terbentuk menjadi manusia yang baik. Anak inilah yang akan menjadi penerus pembangunan bangsa nantinya. Sebaliknya, anak yang berasal dari didikan keluarga yang broken home akan terbentuk menjadi anak yang tidak berkembang. Anak seperti ini tidak mampu melakukan pembangunan terhadap bangsa dan negaranya.
            Oleh sebab itu, peran keluarga harus dioptimalkan dalam pembentukan karakter seorang anak. Untuk itu, keluarga harus mampu memerankan 10 fungsinya (Syarbini, 2013) yakni Fungsi reproduksi, Fungsi edukasi, Fungsi proteksi , Fungsi afeksi, Fungsi sosialisasi, Fungsi religi, Fungsi ekonomi, Fungsi biologi, Fungsi transformasi, dan Fungsi rekreasi.
            Fungsi edukasi menempatkan keluarga sebagai lembaga pendidikan informal. Keluarga menjadi awal penanaman pengetahuan, sikap dan keterampilan anak. Keluarga mempunyai peran penting terhadap perkembangan pengetahuan anak. Fungsi proteksi maksudnya bahwa keluarga mempunyai kekuatan untuk memberikan rasa aman dan melindungi anggotanya dari berbagai macam gangguan lahir dan bathin. Fungsi afeksi akan memberikan rasa kasih sayang, kebersamaan, dan ikatan bathin kepada seluruh anggotanya. Sebagai lembaga sosialiasi, keluarga mempunyai fungsi untuk melatih anak bersosialisasi atau bergaul dengan orang lain.
            Fungsi keluarga yang sangat penting adalah fungsi religi. Keluarga mempunyai tanggung jawab mengenalkan konsep ketuhanan dan pelaksanaan ibadah keagamaan kepada anggota keluarga. Keluarga wajib menanamkan semangat ketuhanan yang benar kepada anak-anak. Fungsi ekonomi, fungsi biologi, dan fungsi rekreasi merupakan fungsi keluarga dalam rangka memenuhi segala kebutuhan hidup manusia, baik kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. Sedangkan fungsi transformasi adalah fungsi keluarga dalam mentransfer nilai-nilai keluarga kepada anak cucunya.         
            Seluruh fungsi keluarga secara bersinergi membantu penanaman nilai pendidikan karakter bagi anak-anak. Sebagaimana dijelaskan pada bab sebelumnya, pendidikan karakter di lingkungan keluarga juga mencakup aspek-aspek afektif, kognitif, dan psikomotor. Menurut Syarbini (2014: 40), nilai-nilai karakter yang dapat ditanamkan dalam pendidikan karakter di keluarga meliputi keimanan dan ketaqwaan, kejujuran, disiplin, percaya diri, tanggung jawab, rasa keadilan, sopan santun, pemaaf, sabar, dan peduli. Nilai-nilai karakter ini dikembangkan dari ajaran agama, filsafat bangsa, serta nilai kearifan lokal suatu masyarakat.
            Sejalan dengan tujuan pendidikan secara umum, pendidikan karakter pada hakekatnya bertujuan menciptakan manusia yang cerdas pikiran, moral dan spiritualnya, berbudi pekerti yang luhur, taat menjalankan perintah agama, serta mempunyai mental yang terpuji. Namun secara khusus, penanaman pendidikan karakter di lingkungan keluarga bertujuan untuk menciptakan anak menjadi manusia yang berakhlak mulia, taat kepada perintah agamanya (baca: Allah dan Rasul) serta menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua.
            Untuk mencapai tujuan di atas, penanaman pendidikan karakter di keluarga dapat dilakukan oleh dua pelaku.  Pelaku pertama adalah keluarga inti (orang tua dan kakak adik). Ada dua alasan, yaitu orang tua telah dikodratkan untuk mendidik anak-anak yang dilahirkannya serta aspek kepentingan orang tua terhadap kesuksesan anak-anaknya (Tafsir, 2004: 74). Orang tua sangat bertanggung jawab menjadikan anak-anaknya menjadi insan yang berguna.
            Pelaku kedua, keluarga besar. Maksud keluarga besar disini adalah kakek, nenek, paman, bibi, saudara-saudara lainnya. Unsur-unsur ini bisa berpengaruh terhadap keberhasilan penanaman karakter di lingkungan keluarga. Ketika orang tua mengajarkan untuk sholat, tetapi di sisi lain anak-anak melihat kakek atau paman atau bibi tidak shalat, maka kepekaan anak untuk menuruti perintah orang tua akan sedikit goyah. Mereka bisa berdalih mengapa mereka saja yang shalat sedangkan orang lain tidak mengerjakannya. Oleh karena itu, perlu ada kesamaan pikiran, visi dan misi antara kedua pelaku di atas agar penanaman karakter di lingkungan keluarga berjalan secara utuh.
            Selain contoh mengajarkan ibadah, pendidikan karakter di lingkungan keluarga juga mengutamakan pendidikan akhlak mulia. Dalam peran menjadi seorang guru, Orang tua harus mampu memberikan contoh atau teladan yang baik kepada anak-anaknya. Karena sebagai seorang peserta didik, anak-anak mengikuti penuh apa yang dilakukan dan dikatakan oleh gurunya (orang tuanya).
            Ibarat kurikulum dalam pendidikan formal, Orang tua harus mengajarkan materi-materi tentang sopan santun, cara berbicara yang sopan, berjalan yang benar, berkomunikasi yang sopan, bertanggung jawab, bersikap jujur, suka membantu orang lain, serta pengajaran-pengajaran lainnya.  Jika dikaitkan dengan pengetahuan majemuk-nya Howard Gardner, pendidikan karakter di keluarga cenderung bertujuan meningkatkan kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal.
            Menurut Syarbini (2014), dalam bukunya membagi menjadi tujuh metode yang bisa digunakan untuk menanamkan karakter pada anak, yaitu:
1.        Metode internalisasi, yaitu memasukkan pengetahuan dan keterampilan ke dalam diri seseorang untuk menjadi kepribadiannya sehari-hari.
2.        Metode keteladanan, yaitu metode pengajaran dengan cara memberikan contoh atau teladan yang baik kepada anak-anak. Anak-anak akan meniru apa saja yang dilakukan dan apa saja yang dikatakan oleh orang tuanya. Jika orang tua berkata dan berlaku baik, maka baiklah yang ditiru anak-anaknya. Sebaliknya, jika orang tuanya sering berkata dan berlaku kurang baik, maka mereka akan berlaku dan berkata seperti orang tuanya tersebut.
3.        Metode pembiasaan. Pembiasaan merupakan cara orang tua untuk mengajarkan anak-anak untuk melakukan sesuatu. Pembiasaan dapat menanamkan rasa tanggung jawab anak atas pekerjaan atau rutinitas tersebut. Sebagai contoh pembiasaan shalat tepat waktu dapat mendidik anak untuk disiplin.
4.        Metode bermain. Kadangkala anak-anak merasa bosan dengan rutinitas serta aturan-aturan yang ketat. Baik di rumah maupun di sekolah anak-anak biasanya terikat oleh sebuah tatanan atau aturan. Metode bermain menjadi salah satu alternatif bagi orang tua untuk menanamkan karakter kepada anak. Tanpa mereka sadar, kegiatan bermain-main sebenarnya mengajarkan mereka karakter yang sangat penting. Sifat sportifitas, kerja sama, komunikasi merupakan bagian kecil dari pendidikan karakter dalam bermain.
5.        Metode bercerita. Ketika kita masih kecil, sering kali orang tua senang menceritakan sebuah dongeng kepada anak-anak mereka. Di dalam cerita tersebut orang tua bisa menyelipkan penanaman karakter kepada anak. Misalnya cerita kancil dan monyet yang berisi nasehat untuk hidup jujur. Cerita kancil dan kura-kura menanamkan karakter tidak sombong, dan sebagainya.
6.        Metode nasehat. Nasehat bisa diberikan secara langsung oleh orang tua kepada anaknya tanpa melalui perantara atau media bantu. Nasehat merupakan pesan-pesan orang tua secara langsung kepada anak tentang apa yang baik dan yang buruk untuk dikerjakan.
7.        Metode hadiah dan hukuman. Kadangkala kita sering mengabaikan metode reward and punishment. Kita terlalu sering memberikan hukuman kepada anak ketika mereka dinilai bersalah. Namun, ketika mereka memperoleh prestasi kita jarang memberikan hadiah (reward). Kata reward tidak terbatas pada hadiah yang berupa fisik, tetapi bisa diaplikasikan dalam bentuk pujian, tepuk tangan, pelukan, ciuman. Dengan cara seperti ini kita mendidik mereka menjadi orang yang bisa menghargai orang lain. 

Selasa, 21 November 2017

KARAKTER ORANG BERDASARKAN BULAN LAHIR

Tiap manusia memiliki karakter yang berbeda-beda, ada yang rajin ada yang malas, ada yang baik hati ada yang jahat, ada yang terbuka namun tak sedikit yang misterius. Pada artikel sebelumnya telah dibahas karakter seseorang berdasar tanggal lahirnya, namun kali ini kita akan mencoba mengupas karakter seseorang menurut bulan kelahirannya.

JANUARY
* Ambisius dan serius
* Suka mengajar dan diajar
* Selalu mencari cacat dan kelemahan orang lain.
* Suka mengkritik
* Pekerja keras dan produktif
* Pandai, rapi dan terorganisir
* Sensitif dan memiliki pemikiran yang dalam
* Tahu cara membahagiakan orang lain
* Pendiam, kecuali pada saat tegang atau 'tersulut'
* Cenderung menutup diri
* Sangat perhatian kepada hal kecil
* Cenderung tidak mudah sakit, tapi lemah terhadap dingin
* Romantis, tapi susah mengungkapkan cinta
* Menyukai anak
* Orang rumahan
* Setia
* Butuh meningkatkan kemampuan sosial
* Mudah cemburu

FEBRUARI
* Pemikirannya abstrak
* Menyukai realitas dan abstrak
* Cerdas dan pandai
* Perwatakan berubah-ubah
* Temperamental
* Pendiam, pemalu, dan sederhana
* Rendah diri
* Setia dan jujur
* Bertekad kuat dalam mencapaui tujuan
* Mencintai kebebasan
* Memberontak jika dihambat
* Menyukai agresifitas
* Terlalu sensitif dan mudah sakit hati
* Gampang marah
* Tidak menyukai hal-hal yang kurang perlu.
* Sangat suka berteman, tapi jarang memperlihatkannya
* Sangat berani, tapi keras kepala
* Ambisius
* Ingin mewujudkan impian dan harapan
* Tajam
* Menyukai hiburan dan waktu santai
* Boros
* Belajar menunjukkan perasaan

MARET
* Berkepribadian menarik
* Pengasih
* Pemalu dan tertutup
* Penuh rahasia
* Jujur, pemurah dan simpatik
* Menyukai ketenangan dan kedamaian
* Sensitif akan kebutuhan orang lain
* Suka melayani orang lain
* Tidak mudah marah
* Dapat dipercaya
* Sangat berterima kasih dan selalu membalas
* Pengamat dan penilai yang baik
* Penuh dendam
* Menyukai bermimpi dan berfantasi
* Suka bertualang
* Suka diperhatikan
* Menyukai dekorasi rumah
* Berbakat musik
* Menyukai hal-hal khusus
* Gampang berubah mood

APRIL
* Aktif dan dinamis
* Cepet mengambil keputusan dan suka membenci, tapi cenderung menyesal
* Menarik dan menyayangi
* Kuat mental
* Menyukai perhatian
* Diplomatis
* Suka menenangkan
* Ramah dan suka membantu memecahkan permasalahan
* Berani dan tidak kenal takut
* Cenderung suka bertualang
* Mencintai dan menyayangi
* Pandai membujuk dan murah hati
* Emosional
* Penuh dendam
* Selalu bergerak cepat
* Agresif
* Memiliki memori yang kuat
* Penggerak yang baik
* Pandai memotivasi orang dan diri sendiri
* Penyakit biasanya bersarang di kepala atau dada
* Mudah sekali cemburu berat

MEI
* Keras kepala dan keras hati
* Berkemauan keras dan memiliki motivasi tinggi.
* Memiliki pemikiran tajam
* Mudah marah
* Mudah menarik perhatian orang lain dan menyukai perhatian
* Memiliki perasaan yang dalam
* Cantik fisik dan mental
* Tegas
* Mudah terpengaruh
* Tidak butuh dimotivasi
* Mudah dihibur
* Sistematis (otak kiri)
* Suka bermimpi
* Peramal hebat
* Sangat pengertian
* Penyakit umumnya bersarang di leher dan telinga
* Imajinasi tinggi
* Kemampuan debat yang baik
* Kemampuan fisik yang baik
* Pernapasan lemah
* Mencintai literatur dan seni
* Mencintai petualangan
* Tidak suka diam dirumah
* Gelisah
* Pekerja keras
* Semangat tinggi
* Boros

JUNI
* Berpikir jauh dengan visi yang kuat
* Mudah dipengaruhi dengan kebaikan hati
* Sopan dan bertutur kata halus
* Memiliki banyak ide
* Sensitif
* Berpikiran aktif
* Ragu-ragu
* Cenderung menunda-nunda
* Pemilih dan cenderung hanya mau yang terbaik
* Temperamental
* Lucu dan suka humor
* Suka becanda
* Memiliki kemampuan debat yang baik
* Cerewet
* Penghayal
* Ramah
* Patuh pada peraturan
* Mampu menujukkan karakter
* Mudah disakiti
* Mudah terserang flu
* Suka berdandan
* Gampang bosan
* Pengeluh
* Butuh waktu lama untuk menyembukan luka hati
* Sadar merek
* Pengambil keputusan
* Keras kepala
* Mereka yang menyukaiku adalah musuh
* Mereka yang membenciku adalah teman

JULI
* Orang yang menyenangkan
* Penuh rahasia
* Susah diukur dan dimengerti
* Pendiam, kecuali saat tegang atau 'tersulut'
* Bangga pada diri sendiri
* Memiliki reputasi
* Mudah ditenangkan
* Jujur
* Peduli tentang perasaan orang lain.
* Gampang diterima
* Ramah
* Mudah didekati
* Sangat emosional
* Temperamental dan tidak dapat diramalkan
* Gampang berubah mood dan mudah terluka
* Cerdik
* Sentimentil
* Tidak pendendam
* Pemaaf, tetapi tidak mudah melupakan
* Tidak menyukai barang yang tidak perlu
* Mampu membimbing orang lain baik secara fisik maupun mental
* Sensitif dan membentuk citra diri secara berhati-hati
* Suka memperhatikan dan mencintai
* Memperlakukan semua orang sama
* Siaga dan selalu berpikiran tajam
* Menilai orang melalui pengamatan
* Pekerja keras

AGUSTUS
* Suka bercanda
* Menarik
* Mudah membujuk dan sangat perhatian
* Berani dan tidak kenal takut
* Tegas dan miliki sifat kepemimpinan
* Tahu cara menghibur orang
* Terlalu murah hati dan egois
* Membangakan diri sendiri
* Haus pujian
* Semangat yang luar biasa
* Mudah marah
* Marah jika disulut
* Mudah cemburu
* Pengamat yang baik
* Selalu berhatihati dan waspada
* Berpikir cepat
* Berpikir mandiri
* Suka memimpin dan dipimpin
* Suka bermimpi
* Berbakat dalam bidang musik, seni, dan pertahanan
* Sensitif, dalam cara yang kurang menyenangkan
* Mudah jatuh sakit
* Cenderung terburu-buru
* Harus belajar tenang
* Romantis
* Mencintai dan menyayangi
* Suka berteman

SEPTEMBER
* Pandai membujuk dan berkompromi
* Berhati-hati, waspada, dan teratur
* Suka menunjukkan kesalahan orang lain
* Suka mengkritik
* Pendiam, namun sebetulnya pandai berbicara
* Tenang dan pendiam
* Baik hati dan simpatik
* Perhatian dan sangat mendetil
* Dapat dipercaya, setia, dan jujur
* Dapat bekerja dengan baik
* Sensitif
* Pemikir
* Ingatan kuat
* Cerdas dan mudah dikenali
* Harus menahan diri pada saat mengkritik
* Mampu memotivasi diri sendiri
* Pengertian
* Penuh rahasia
* Menyukai olah raga, bersantai, dan bertualang
* Jarang menunjukkan emosi
* Cenderung menekan emosi
* Sangat pemilih dalam melakukan hubungan
* Mencintai hal-hal lebar
* Sistematis

OKTOBER
* Suka ngobrol
* Mencintai orang yang mencintainya
* Suka langsung mengarah ke pusat permasalahan
* Menarik dan pandai membujuk
* Memiliki kecantikan dalam dan luar
* Tidak suka berbohong atau berpura-pura
* Simpatik
* Suka memperlakukan teman seperti orang penting
* Selalu berusaha mencari teman
* Gampang terluka dan gampang pula 'sembuh'
* Temperamen buruk
* Egois
* Jarang membantu, kecuali jika diminta
* Penghayal
* Sangat terpengaruh dengan pendapat pribadi
* Tidak peduli dengan pendapat orang lain
* Emosional
* Cepet mengambil keputusan
* Peramal hebat
* Suka bertualang, seni, dan karya sastra
* Tutur bahasa halus, suka mencintai dan menyayangi
* Romantis
* Gampang tersinggung dan mudah cemburu
* Sangat perhatian
* Suka bergerak diudara terbuka
* Adil dan tidak berat sebelah
* Boros dan mudah dipengaruhi
* Mudah kehilangan percaya diri

NOVEMBER
* Banyak memiliki ide
* Berpikiran kedepan
* Unik dan cerdas
* Ide yang luar biasa
* Pemikiran tajam
* Peramal yang hebat dan akurat
* Dapat menjadi dokter yang hebat
* Berhati-hati dan waspada
* Penuh rahasia
* Selalu ingin tahu
* Tahu cara menggali rahasia
* Selalu berpikir
* Tidak terlalu cerewat tetappi ramah
* Berani dan murah hati
* Sabar
* Keras kepala dan keras hati
* Jika ada kemauan, maka ada jalan
* Tidak mudah goyah
* Jarang marah, kecuali jika sengaja disulut
* Penyendiri
* Selalu berpikir berbeda dengan orang lain
* Berpikiran tajam
* Mampu memotivasi diri sendiri
* Tidak terlalu peduli dengan pujian
* Bersemangat
* Bertubuh kuat dan tegar
* Cintanya amat dalam

DESEMBER
* Setia dan murah hati
* Patriotis
* Aktif terlibat dalam permainan atau interaksi
* Kurang sabar dan terburu-buru
* Ambisius
* Berpengaruh dalam organisasi
* Menyenangkan
* Suka bersosialisasi
* Suka dipuji
* Suka diperhatikan
* Suka dicintai
* Jujur dan dapat dipercaya
* Tidak berpura-pura
* Mudah marah
* Kepribadiannya mudah berubah
* Tidak egois
* Bangga akan diri sendiri
* Tidak suka dikekang
* Suka becanda
* Memiliki sense of humor yang bagus* Logis.

Pendidikan Karakter Dalam Al-QURAN

PENDIDIKAN KARAKTER DALAM AL-QUR’AN DAN HADITS


A.    Definisi Pendidikan Karakter
         Istilah pendidikan dalam bahasa Indonesia, berasal dari kata “didik” dengan memberinya awalan “pe” dan akhiran “kan” yang mengandung arti perbuatan. Secara terminologi terdapat beberapa pendapat, antara lain secara sederhana dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan.  

Menurut Zahroh, pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam upaya mendewasakan manusia melalui usaha pengajaran dan latihan.  Menurut Brubacher, sebagaimana yang dikutip Aziz, adalah proses timbal balik dari tiap pribadi manusia dalam penyesuaian dirinya dengan alam dan dengan alam semesta.  

Darmaningtyas, sebagaimana yang dikutip Naim dan Sauqi, mengemukakan pendidikan sebagai usaha sadar dan sistematis untuk mencapai taraf hidup dan kemajuan yang lebih baik.  Sementara itu, Koentjaraningrat, sebagaimana yang dikutip Naim dan Sauqi, mendefinisikan pendidikan adalah usaha untuk mengalihkan adat istiadat dan seluruh kebudayaan dari generasi lama ke generasi baru.  Menurut Langeveld, sebagaimana yang dikutip Hasbullah, pendidikan ialah setiap usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak, tertuju kepada pendewasaan anak itu, atau lebih tepat membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri. Pengaruh itu datangnya dari orang dewasa (atau yang diciptakan oleh orang dewasa, seperti sekolah, buku, putaran hidup sehari-hari, dan sebagainya) dan ditujukan kepada orang yang belum dewasa.Menurut Ahmad Tafsir, pendidikan adalah “berbagai usaha yang dilakukan oleh seseorang (pendidik) terhadap seseorang(anak didik) agar tercapai perkembangan maksimal yang positif”. 

 Menurut Undang-Undang No.20 Tahun 2003, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.  Jadi pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan mengembangkan potensi manusia agar mampu menuju kedewasaannya.

ALA JEPANG

PENDIDIKAN KARAKTER ALA JEPANG

Sekarang dunia pendidikan kita sedang menggiatkan  Pendidikan berkarakter. Menakjubkan sebenarnya, karena ide pendidikan berkarakter sudah ada sejak lama sekali, sedangkan Indonesia baru terbelalak matanya diseputaran tahun 2003. Dan di tahun 2010/2011, meski sangat terlambat, Kementerian Pendidikan Nasional kembali menggiatkan wacana pendidikan berkarakter untuk menuntaskan peliknya masalah pendidikan di Indonesia.
Seakan gagap dan terlena, ketika Pendidikan berbasis budaya berkarakter bangsa disisipkan ke kurikulum dan silabus, sebagian pendidik kita kelabakan untuk menentukan pengertian karakter itu sendiri. Kegamangan guru-guru dalam menerapkan materi pelajaran yang disisipi pembentukan karakter siswa-siswididiknya merupakan potret nyata bahwa selama ini pendidikan di Indonesia hanya pandai mencerdaskan otak, namun gagal dalam membentuk siswa yang berkarakter.
Fenomena yang menarik adalah ketika dunia pendidikan asyik menciptakan siswa-siswi cerdas dengan memberikan beban pelajaran super berat dan banyak, padahal dengan beban pelajaran yang tinggi, energi guru dan siswa terbuang percuma karena mereka sadar hanya 5 – 10 % siswa saja yang mampu mengikuti pelajaran dengan baik.

Hal ini tentu menjadi bumerang bagi dunia pendidikan Indonesia karena jelas-jelasmengabaikan 90% siswa dengan kemampuan dibawah rata-rata dan dianggap tidak memiliki nilai akademis tinggi. Bahwa dikatakan bumerang karena siswa dengan nilai akademis rendah dan sedang menempati porsi terbesar di negara Indonesia, maka yang terjadi adalah pendidikan Indonesia menciptakan jurang dikotomi terhadap hak-hak pendidikan yang layak bagi 90% komunitas ini.
Kebalikan dari negara Jepang, pendidikan di Indonesia justru menyiapkan seluruh siswa-siswi kita menjadi ahli pemikir dan ilmuwan. Sedangkan di Jepang, mereka sadar bahwa tidak semua siswa itu cerdas dan memiliki potensi yang sama. Kecerdasan bukan hanya potensi akademik, tapi ada beraneka ragam dimensi kecerdasan yang sifatnya konkrit, seperti ketrampilan, seni, olahraga dan kegiatan non akademik lainnya.
Kenyataan bahwa hanya ada 5-10% manusia cerdas ditiap negara membuat Jepang mempersiapkan pendidikan berkarakter untuk membentuk 90% siswa-siswinya yang merupakan penduduk mayoritas. Walhasil, negara Jepang kini menjadi negara maju dan disiplin bukan karena kecerdasan semata, tetapi karakter kuat dari penduduk mayoritas yang telah digembleng dalam masa pendidikan. Lalu bagaimana dengan Indonesia?
Mengaca dari Program Pendidikan dari masa Orde Lama hingga sekarang, belum ada tanda-tanda perubahan berarti dari Pemerintah dalam mempersiapkan siswa-siswi kita menjadi manusia berkarakter kuat. Contoh konkrit salah satunya masih digunakan Ujian Nasional sebagai tolak ukur penilaian hasil belajar. Yang menjadi pertanyaan, karakter apa saja yang cocok untuk ditanamkan pada siswa-siswi kita?
Menurut UU no 20 tahun 2003 pasal 3 menyebutkan pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter bangsa yang bermartabat. Ada 9 pilar pendidikan berkarakter, diantaranya adalah:
  1. Cinta tuhan dan segenap ciptaannya
  2. Tanggung jawab, kedisiplinan dan kemandirian
  3. Kejujuran /amanah dan kearifan
  4. Hormat dan santun
  5. Dermawan, suka menolong dan gotong royong/ kerjasama
  6. Percaya diri, kreatif dan bekerja keras
  7. Kepemimpinan dan keadilan
  8. Baik dan rendah hati
  9. Toleransi kedamaian dan kesatuan
Di Jepang, selain khusus ada jam pelajaran tentang moral (doutoku), pesan-pesan moral juga terintegrasi dalam seluruh mata pelajaran di Jepang. Di kelas satu sekolah jepang adalah, pelajaran tentang berbohong, dan giliran piket bersih-bersih di kelas. Dalam dua sesi yang berbeda itu, pendekatan yang dilakukan oleh guru jepang relatif mirip. Tidak dengan mendoktrin tentang pentingnya untuk berlaku jujur atau menjalani tugas piket. Namun, dengan mengajak anak-anak berdiskusi tentang akibat-akibat berbohong atau ketika mereka tidak menjalani tugas piket.
Diskusi interaktif itu menggiring anak-anak untuk berpikir tentang pentingnya melaksanakan nilai-nilai moral yang akan diajarkan (proses kognitif-sikou ryoku). Tidak ada proses menghafal, juga tidak ada tes tertulis untuk pelajaran moral ini. Untuk mengecek pemahaman anak-anak tentang pelajaran moral yang diajarkan, mereka diminta untuk membuat karangan, atau menuliskan apa yang mereka pikirkan tentang tema moral tertentu (proses menilai-handan ryoku). Kadang mereka juga diputarkan film yang memiliki muatan moral yang akan diajarkan, dan diajak untuk berdiskusi isi dari film itu.
Konsep-konsep  “seikatsu-ka (living environmental study)” dan “sougou gakusyuu (integrated learning)” di Jepang. Dua hal yang menjadi inti pendidikan adalah pendidikan yang berfokus pada minat anak-anak dan pentingnya belajar melalui pengalaman langsung. Di Jepang sendiri, meskipun ada pelajaran moral (doutoku) dan ada kurikulumnya secara spesifik apa yang harus diajarkan, namun apa definisi moral, baik-buruk, benar-salah, sama sekali tidak ada batasannya. Penekanannya lebih kepada nilai-nilai yang dianggap baik secara universal, seperti nilai-nilai kejujuran, kerja keras, menghormati hak orang lain, disiplin, rasa malu ketika tidak memenuhi kewajiban, dan sebagainya.
Hubungan antara moral dengan agama juga sempat dibahas, tapi untuk hal ini menimbulkan pro dan kontra. Guru-guru di Jepang memang sangat berhati-hati dalam hal ini. Karena urusan agama adalah urusan individu, jadi tidak berhak diajarkan oleh guru-guru di sekolah. Di Jepang sendiri, dengan kualitas guru-guru yang sangat baik, pendidikan moral yang didukung dengan sistem pendidikan, serta undang-undang yang fokus pada pembentukan karakter di sekolah dasar dan menengah, bisa sukses menanamkan nilai-nilai yang diajarkan tadi.
Kalau dalam Islam, maka pertanyaan-pertanyaan itu sangat mudah untuk dijawab. Tinggal mempelajari Alquran saja, kita bisa tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Ada konsekuensi yang jelas ketika kita melakukan kebaikan ataupun keburukan. Dalam masyarakat liberal, nilai-nilai kebaikan dan keburukan akan sangat mudah sekali bergeser. Tergantung pihak mana yang kuat, dan siapa yang bisa membangun opini di masyarakat.
Karena itu, nilai-nilai yang dulu dianggap buruk, seperti seks bebas, bisa saja bergeser karena pengaruh media yang mencitrakan keindahan dalam pergaulan bebas. Padahal, akibat seks bebas yang berujung pada kerusakan nasab anak, penyakit-penyakit kelamin, dan kerusakan sistem sosial di masyarakat tidaklah hilang hanya dengan penggambaran yang indah itu saja.
Saya sendiri tidak menilai bahwa pendidikan moral di Indonesia lebih baik dari Jepang. Indonesia memiliki konsep tentang moral yang kaya. Setiap pemeluk agama bebas untuk mengajarkan konsep moral kepada pemeluknya. Namun, kekurangannya ada dalam teknik mengajarkan moral kepada anak-anak. Bagaimana agar pendidikan moral tidak hanya masuk ke tataran kognitif saja, tapi sampai menjadi kebiasaan, dan akhirnya menjadi karakter yang melekat kuat dalam diri anak. PR besar dalam sistem pendidikan di negeri tercinta ini